09 Januari, 2009

Ayah Syafril selalu hidup di hati kami

10 Muharram 1430 *Rabu,7 Januari 2009* pukul 18.10

Selesai Sholat maghrib , hapeku berbunyi , Abba *Ayahku* calling .
Abba : "kak , ada berita duka , Ayah Syafril meninggal tadi sore jam 4 , tolong beritahu teman-teman kakak !"
Aku : "innalillahi wa inna illahi rojiun , meninggal di mana ba ? Di rumah sakit ya ?"
Abba : "iya , tolong kabari teman-teman kakak ya . Abba sekarang sedang menuju rumah duka ."

Seketika air mataku mengalir , mengalir semakin deras . Ayah Syafril kami telah tiada .
Ku cari nama uul dari phonebuk , tekan call . Tidak di angkat . Ku cari nama sapi , call . Di angkat .
Sapi : "kenapa way ?"
Aku : "sap , ayah syafril meninggal ."
Sapi : "seriusan ? Kapan ? Innalillahi wa inna illahi roji'un."
Aku : "tadi sore jam 4 di rumah sakit ."
Sapi : "kita doain way"
Aku : "..............."
Sapi : "way"
Aku : "..............."
Sapi : "sabar ya way , jangan nangis , kita doain yah"
Aku : "iya , sap , gw nyesel , nyesel banged . Lo tolongin gw ya sebarin sms k temen-temen , tadi gw nelpon uul tapi gak di angkat".
Sapi : "iya , gw juga nyesel way . Ok , gw sms-in".

Masih terekam di kepalaku , dari kecil aku kenal beliau , beliau adalah sahabat ayahku . Sejak kecil ayahku selalu mengajak kami untuk bersilaturahmi ke rumah beliau , terutama saat idul fitri . Aku , abang , dan dede memanggil beliau dengan sebutan ayah , atau ayah pulo gadung atau ayah syafril . Ibu , istrinya ayah syafril selalu membuatkan rendang yang enak , selalu menyuruhku untuk mengambil mainan yang kusuka dari warungnya .

Sampai tiba saatnya aku belajar di 13 . Aku berharap dan sangat ingin di ajar beliau . Begitu kelas 3 soc 1 , aku mendapat wali kelas bunda Delfina *bunda tersayang di 13* , dan mendapat guru ekonomi akuntansi ayah syafril .

Bagi kami , social 1 , Ayah syafril bukan hanya sekedar guru , tapi beliau adalah ayah kami . Beliau mengajar dengan hati , mengajar dengan senyuman , mengajar dengan wibawa . Mengajar bukan hanya sekedar tugas , tapi sebagai ibadah . Mengajar untuk kami , anak-anak beliau . Mengajar tidak hanya menyuruh mencatat , menghafal , tetapi beliau membuat kami melakukan sesuatu , yang membuat kami senang . Bagi ayah syafril , ekonomi , kami , dan mengajar adalah segalanya . Pernah suatu hari , di hari terakhir kami belajar di kelas sebelum menghadapi uan . Beliau meminta kami maju satu per satu ke depan kelas untuk mengucapkan sekedar sepatah dua kata perasaan kami yang sebenarnya selama belajar ekonomi bersama beliau di kelas ini , boleh tentang teman di kelas , hal yang paling disenangi atau dibenci di kelas , boleh permintaan maaf kepada seseorang yang ada di kelas ini , suka duka belajar ekonomi dengan beliau , apapun itu termasuk cara mengajar beliau .
Ketika ke-36 isi dari soc 1 selesai bicara di depan kelas , beliau turun dari bangkunya , berdiri dan berkata , "kalian tau , kenapa saya meminta kalian untuk melakukan hal tadi ? saya ingin tau , bagaimana perasaan kalian selama 1 tahun saya ajar , agar kekurangan saya nantinya bisa saya perbaiki" , aku dan seisi kelas melihat mata beliau sudah berkaca-kaca , lalu beliau menghapus air matanya dan berucap lagi "karena 3 tahun lagi saya pensiun , saya ingin di tahun-tahun terakhir bisa melakukan hal yang lebih baik untuk murid-murid saya nantinya setelah kalian lulus , hidup saya adalah mengajar , saya sangat cinta mengajar , saya cinta kelas ini , sekolah ini , saya cinta kalian . Jadilah orang yang berguna".

Seisi kelas hening , aku menangis , kami menangis .

Ayah Syafril merupakan satu-satunya guru di kelas kami yang rela menitikkan air mata untuk kami . Air mata yang menangisi waktu yang terus berjalan dan semakin tidak bersahabat bagi kami untuk saat itu , karena begitu cepat dan mudahnya memisahkan kami , meskipun hanya memisahkan jarak .

Dan kini , saat aku belum sempet melihat keadaan beliau saat sakit , waktu datang lagi untuk benar-benar memisahkan kami dengan ayah kami tercinta , memisahkan kami untuk selama-lamanya . Allah swt telah memanggil beliau di usianya yang ke 60 .

Pada malam itu , aku membuka phonebuk-ku , kulihat masih tertera nama Ayah.Syafril di situ , seketika aku ketik sms .

To :
Ayah.Syafril
(+628128385502)

Message :
Ayah Syafril . Selamat Jalan
Ilmu yang Ayah amalkan akan selalu ada di hati kami , murid-
murid Ayah . Terimakasih Ayah . Terimakasih Guruku tercinta .
Kami sayang Ayah Syafril . Doa kami selalu teriring untuk Ayah .


Send .

Aku memandangi kamarku , kulihat gitar tanpa senar milik Abang *gitar yang ia titipkan kepadaku* . Gitar itu sudah berdebu , kukirim sms ke Abang.
Aku : "bang , gitar lo yang ada di kamar gw ini , gitar yang dikasih ke elo dari Ayah Syafril kan? itu waktu lo kelas berapa bang?"
Babang : "kelas 3 smp put , lo bersihin yah."
Aku : "iyah."


Hoaaaa , jadi semakin sedih !


Untuk Ayah Syafril , ayah akan selalu hidup di hati kami . Selamat jalan Ayah syafril , guru kami tercinta , kami sayang Ayah . Doa kami selalu teriring untuk Ayah . Kenangan bersama Ayah selalu aku tanam , senyuman Ayah selalu nampak hingga kami sukses . Putri sayang Ayah .